|
Dalam rencana
anggaran Masyarakat Afrika Timur yang dibacakan Kamis minggu lalu,
larangan telah ditetapkan atas impor kantong botol plastik.
Juga telah
ditetapkan bea masuk sebesar 120% atas kedua bahan tersebut oleh
tiga menteri keuangan.
Rwanda sudah lama
melarang tas plastik dan pengunjung negara tersebut menyadari bahwa
undang-undang telah mengganti pembungkus plastik dengan kantong yang
dapat didaur ulang seharga US $ 0.09 sampai $ 0.18 tergantung
ukurannya.
Langkah tersebut
ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tanah yang
subur guna pertanian dan peternakan dan mengalihkan biaya yang
ditimbulkan guna membersihkan plastik ketujuan yang lebih produktip.
Pengelolaan limbah kantong plastik adalah usaha yang sangat mahal
Beberapa hari
sebelum pidato anggaran tersebut, Hajabakig menyarakan
keprihatinannya dalam tiga hari konperensi bagi wartawan lingkungan
di Hotel Kigali Serena antara tanggal 4 sampai 6 Juni lalu
Seiring dengan
Hari Lingkungan Dunia 5 Juni
Dilaksanakan
dengan thema ” Berbagi Informasi Lingkungan Guna Menangani Tantangan
Pokok Regional Afrika” Menteri lingkungan menekankan bahwa guna
mempertahanlan lingkungan yang bersih, semua anggauta Masyaraka
Afrika Timur harus bekerjasama dan menerapkan larangan atas tas
plastik yang harus digantikan dengan tas yang dapat didaur ulang.
”Kita tidak akan
berhasil jikalau negara lain di kawasan ini tidak melakukan hal yang
sama. Kita telah berbagi hasil studi dengan teman-teman menteri di
kawasan Masyarakan Afrika Timur”
Tas plastik
Polythene tidak bisa dibiodegradasi dan karenanya tidak dapat
membusuk dan terurai didalam tanah”
Dalam dukunganya,
Menteri Tanah dan Lingkungan, Mr. Christophe Bazivamo, menjelaskan
kepada wartawan dari 16 negara bahwa tas plastik adalah berbahaya
dan penghapusannya harus diperjuangkan melalui usaha bersama
Dia menjelaskan
bahwa plastik membentuk lapisan diatas tanah yang menghalangi
penguapan air dan sirkulasi udara
Hal ini
menghalangi penyerapan air dan menyebabkan erosi tanah.” Kesuburan
tanah menjadi rusak dan penetrasi akar tumbuhan menjadi tertahan”
Dia juga
mengatakan, diantara pemelihara hewan, sekali hewan menelan plastik
dapat dipastikan hewan tersebut akan mati.
”Selain itu
jikalau kantong plastik tersebut dibakar, gas karbon beracun akan
terbang keudara meracuni atmosfir dan menambah polusi”
Sambil menunjukkan
beberapa kerajinan tangan yang dipamerkan diruang resepsionis
konferensi, Bazivamo menganjurkan para wartawan untuk menyebarkan
informasi ke masyarakat mengenai alternatip bahan pembungkus
Dia juga
menyarankan penggunaan keranjang yang dibuat dari pelepah daun
pisang dan bahan-bahan lainnya yang tidak mengandung bahan beracun.
Menteri juga
membagi-bagikan contoh tas yang dibuat dari batang enceng gondok
yang dikeringkan yang dipamerkan dalam konferensi tersebut
Direktur Jendral
REMA (Rwanda Environment Management Authority) Rose Mukankomeje
menjelaskan bahwa perang terhadap tas plastik telah dimulai dari
tahun 2005 ketika undang-undang disetujui untuk memberantas ancaman
plastik.
Sumber: East
African Business Week |