coolcitibags

 

 
Ibu Menteri Yang Mendesak Pelarangan Tas Plastik

 

Keinginan Menteri Negara Tanah dan Lingkungan Rwanda Patricia Hajabakiga guna melarang total atas penggunaan tas plastik oleh Masyarakat Afrika Timur (EAC) tercapai minggu lalu.

Dalam rencana anggaran Masyarakat Afrika Timur yang dibacakan Kamis minggu lalu, larangan telah ditetapkan atas impor kantong botol plastik.

Juga telah ditetapkan bea masuk sebesar 120% atas kedua bahan tersebut oleh tiga menteri keuangan.

Rwanda sudah lama melarang tas plastik dan pengunjung negara tersebut menyadari bahwa undang-undang telah mengganti pembungkus plastik dengan kantong yang dapat didaur ulang seharga US $ 0.09 sampai $ 0.18 tergantung ukurannya.

Langkah tersebut ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tanah yang subur guna pertanian dan peternakan dan mengalihkan biaya yang ditimbulkan guna membersihkan plastik ketujuan yang lebih produktip. Pengelolaan limbah kantong plastik adalah usaha yang sangat mahal

Beberapa hari sebelum pidato anggaran tersebut, Hajabakig menyarakan keprihatinannya dalam tiga hari konperensi bagi wartawan lingkungan di Hotel Kigali Serena antara tanggal 4 sampai 6 Juni lalu

Seiring dengan Hari Lingkungan Dunia 5 Juni

Dilaksanakan dengan thema ” Berbagi Informasi Lingkungan Guna Menangani Tantangan Pokok Regional Afrika” Menteri lingkungan menekankan bahwa guna mempertahanlan lingkungan yang bersih, semua anggauta Masyaraka Afrika Timur harus bekerjasama dan menerapkan larangan atas tas plastik yang harus digantikan dengan tas yang dapat didaur ulang.

”Kita tidak akan berhasil jikalau negara lain di kawasan ini tidak melakukan hal yang sama. Kita telah berbagi hasil studi dengan teman-teman menteri di kawasan Masyarakan Afrika Timur”

Tas plastik Polythene tidak bisa dibiodegradasi dan karenanya tidak dapat membusuk dan terurai didalam tanah”

Dalam dukunganya, Menteri Tanah dan Lingkungan, Mr. Christophe Bazivamo, menjelaskan kepada wartawan dari 16 negara bahwa tas plastik adalah berbahaya dan penghapusannya harus diperjuangkan melalui usaha bersama

Dia menjelaskan bahwa plastik membentuk lapisan diatas tanah yang menghalangi penguapan air dan sirkulasi udara

Hal ini menghalangi penyerapan air dan menyebabkan erosi tanah.” Kesuburan tanah menjadi rusak dan penetrasi akar tumbuhan menjadi tertahan”

Dia juga mengatakan, diantara pemelihara hewan, sekali hewan menelan plastik dapat dipastikan hewan tersebut akan mati.

”Selain itu jikalau kantong plastik tersebut dibakar, gas karbon beracun akan terbang keudara meracuni atmosfir dan menambah polusi”

Sambil menunjukkan beberapa kerajinan tangan yang dipamerkan diruang resepsionis konferensi, Bazivamo menganjurkan para wartawan untuk menyebarkan informasi ke masyarakat mengenai alternatip bahan pembungkus

Dia juga menyarankan penggunaan keranjang yang dibuat dari pelepah daun pisang dan bahan-bahan lainnya yang tidak mengandung bahan beracun.

Menteri juga membagi-bagikan contoh tas yang dibuat dari batang enceng gondok yang dikeringkan yang dipamerkan dalam konferensi tersebut

Direktur Jendral REMA (Rwanda Environment Management Authority) Rose Mukankomeje menjelaskan bahwa perang terhadap tas plastik telah dimulai dari tahun 2005 ketika undang-undang disetujui untuk memberantas ancaman plastik.

Sumber: East African Business Week


Rekomendasikan ke teman untuk membaca ini
Nama anda:

Email Anda:

Email Teman Anda:

Pesan Anda (optional)


Home | Masalah Plastik | Trend Dunia | Tas Ramah Lingkungan | Kontak